Ini Tentangmu
Kupikir kau tidak akan tertarik membaca apalagi merenungi tulisan yang entah sudah keberapa kali kurangkai demi mencurahkan isi hati ini. Kau bukan tipe orang yang akan meluangkan waktunya untuk hal semacam ini, sebab kau tidak pandai dalam memahami kata-kata yang rumit. Tenanglah, aku cuma sebatas mencoba, walau egoku berkata ‘Kau harus membaca ini!’, namun aku tak mau memaksa, melakukannya untuk diriku sendiri itu sudah cukup.
Bukan
kepekaanmu yang kuminta, aku tak perlu pengertianmu, dan ‘ikatan’ itu tidak
menjadi tujuanku selama ini. Bisakah itu membuat bebanmu berkurang? Memang tabu
untuk dipercayai, tapi kau harus tahu bahwa perasaan yang kupunya tak hanya
sebatas itu. Anggaplah aku sok tahu, tapi yakinlah, perempuan sepertiku dianugerahi
kekuatan yang lebih dalam hal memahami hati. Meski lidahmu sudah kelewat kelu
sampai bisu sekalipun, aku mampu membaca perasaanmu, walau aku sendiri kadang
ragu dengan penerawanganku. Apa yang kurasakan ini benar? Atau ini hanya sebuah
tumpukan prasangka yang mengubur semua kejujuran hatimu? Aku tak mau mendahului
takdir.
Lama
setelah semua yang terjadi, kau masih mengenalku sebagai orang yang sama, kan?
Tetap ceria, bersemangat, dan selalu berusaha membahagiakanmu, persis dengan
yang ada dalam ingatanmu. Tapi, sadarkah kau sekarang aku sedikit berbeda?
Tentu, aku tahu kau tahu. Entah sejak kapan aku menjadi gadis yang lebih
sensitif bahkan pada hal konyol sekalipun, dan seolah selalu mengemis
perhatianmu dengan cara yang bodoh. Menyebalkan, ya? Aku seharusnya sudah cukup
tahu diri untuk tidak mengakuimu sebagai milikku lagi, karena kulihat kau pun
tak menginginkannya. Tiap kau melihatku, yang kau ingat hanya rasa bersalah,
bukan? Maka dari itu kau menghindariku walau nuranimu tak menghendakinya.
Dan
kau tahu apa yang lebih buruk dari pengasinganmu itu? Hatimu setelahnya. Jujur,
mungkin aku akan lega jika kau senang melakukannya. Sungguh, sakiti saja aku
bila itu memang arti kebahagiaan bagimu. Tapi apa yang kudapat? Kau kembali
menjadi dirimu yang dulu, bahkan lebih buruk. Justru membuatku semakin tak bisa
meninggalkanmu dengan segala ‘topeng’ yang kau pakai sedemikian tebal.
Itukah
yang kau mau? Selamanya hidup dalam kesepian, kegelapan, tanpa pernah berterus
terang lagi pada hatimu sendiri. Lantas bagaimana jika ada gadis bodoh
sepertiku yang ingin mengusahakan pemulihan jiwa untukmu? Aku bukan motivator
ulung, jadi aku tak akan meminta upah dalam bentuk apapun. Karena prioritasku
adalah mengembalikan fungsi hatimu, tak peduli apa yang akan kau lakukan
berikutnya.
Bersama
‘dia’, kukira tadinya ia mampu menggantikanku dengan baik, sehingga aku bisa
merelakanmu walau patah hati berkepanjangan lah risikonya. Kenyataannya? Kalian
tak pernah menjadi jelas, membuatku harus belajar menjadi secerdik, seteliti,
dan sepemikir seorang detektif, mencari tahu kisah macam apa yang sebenarnya
sedang melibatkanku ini. Lalu lihat, ‘dia’ malah mendapatkan cinta yang baru
setelah melengkapi kehancuran hatiku saat itu. Entah bagaimana denganmu, tapi
itu membuatku semakin membencinya.
Sekarang,
kupikir kalian sudah berakhir. Namun aku salah, ternyata ‘dia’ ibarat sebuah
perekat, walau sudah lepas, tapi tetap meninggalkan kesan ‘menempel’ di
kulitmu. Kulihat kalian bahagia dengan segala keburaman itu, tapi kebahagiaan
yang terasa getir, tak membawa kehangatan sama sekali. Bila itu tulus aku pasti
sudah merasakan kebahagiaanmu, dan itu tak masalah bagiku. Katanya hanya
sebatas teman, tapi teman macam apa yang mengajak sahabatnya jatuh ke dalam
kegelapan dan mengajaknya berbahagia dalam keadaan seperti itu? Kalian memang
punya persepsi yang sama mengenai suka duka kehidupan, tapi aku berani jamin caranya
memberi tahumu makna pentingnya sebuah nyawa akan sepenuhnya berbeda dengan
caraku.
Ingatlah,
dulu pernah ada saat-saat kau menjadi orang yang amat hebat. Kesan pertamaku
padamu waktu itu adalah, kau itu laki-laki yang lugu, dengan bekal yang selalu
kau bawa ke sekolah, kau menikmati selera makanmu yang besar itu. Terlihat
sangat menghormati orang tua, punya wawasan yang luas. Dan meski kau pendiam,
sebenarnya kau itu suka melibatkan diri di keramaian, memang tidak begitu
menonjol, tapi kau selalu bisa diandalkan semua orang. Kau mengajarkanku untuk
bertahan ditengah keterbatasan dan menjadikannya menyenangkan untuk dihadapi.
Kau sering menceritakan impianmu padaku, dan ketika itu pula aku memutuskan
untuk membantumu mewujudkannya.
Impianmu
sederhana, kau ingin menjadi seorang pengajar bagi anak-anak di sekolah, kau
ingin menghabiskan waktu bersama keluarga dan semua orang yang kau cintai. Kau
bahkan memiliki impian tersendiri bersamaku. Berlebihan memang jika aku
berharap kau masih menyimpan impian itu. Katamu, sulitnya hidup membuatmu
menjadi seperti sekarang, tapi aku tak percaya!
Kau
mungkin berpikir hidupku mudah dan sempurna, tapi tak sepenuhnya begitu. Aku
pun pernah merasakan setidaknya sekali, beban yang kau rasakan itu. Waktu dan
keadaan boleh saja mengubahmu, tapi bukan berarti hatimu akan menghapusnya
begitu saja. Kau tetaplah kau yang sama seperti sejak awal kau terlahir ke
dunia ini.
Tekadku
untuk menggugah semangat hidupmu lebih besar dari apapun. Jika kau berpikir
keindahan dunia hanya sebatas pada dunia fantasi dan gadis-gadis manis dalam
layar kaca yang amat kau sayangi itu, maka aku akan membuatmu melihat hidup ini
dari sisi lain yang lebih luas, tanpa perlu mengajakmu berkeliling dunia.
Betapa
inginnya aku menyadarkanmu bahwa hanya dengan menatap matahari pagi atau
menghirup udara segar saja bisa membuatmu bahagia, bersyukur akan hal-hal kecil
dan sepele itu perlu. Dunia yang diciptakan Tuhan ini jauh lebih indah dari
dunia fantasimu itu, kau tahu? Nyawamu terlalu berharga jika dihabiskan hanya
dengan bersembunyi dalam sebuah ruangan. Jadi kau jangan menikmatinya begitu
saja.
Orang-orang
dalam dunia nyata memang tak serupawan mereka yang ada dalam dunia fantasimu
itu, tapi ingatlah bahwa kau juga salah satu dari mereka yang ada di dunia
nyata itu, dan yang menciptakanmu adalah Pencipta Maha Sempurna, harga mati
untuk teori itu. Hidup ini juga tak seindah jalan cerita dalam film-film yang
kau saksikan itu. Tapi bukankah kisah mereka juga terilhami dari kehidupan
manusia sebenarnya? Jadi percayai saja hidup ini juga bisa seindah itu.
Satu
lagi, kau tidak mudah menaruh kepercayaan kepada orang lain. Kau terlalu takut
kelak akan disakiti dan dikhianati. Hei, bukannya aku sombong. Untuk hal yang
satu ini aku rasa kau harus belajar dariku!
Manusia
memang makhluk dinamis, yang tak mampu diam berlama-lama di satu titik dan bisa
berubah kapan saja. Namun tak ada satupun manusia yang ditakdirkan untuk
menjadi orang jahat, Tuhan tidak menciptakan kita untuk itu. Selama masih ada
orang yang bersedia mencintaimu, cukup ingat saja perasaan cinta itu, tak perlu
pikirkan yang lainnya. Maka kau akan bisa terus tersenyum sekalipun kau sedang
dipukul atau bahkan diludahi. Itu prinsip yang ingin kubagi untukmu. Bila tak
ada kebahagiaan yang bisa kau temukan, ciptakanlah sendiri rasa bahagia itu,
sampai seluruh dunia bisa merasakannya juga.
Ah,
akhirnya aku bicara panjang lebar bukan tentang perasaanku sendiri lagi… Entah
kau membacanya atau tidak. Tapi aku sungguh berharap kau tidak mengacuhkan
tulisanku ini begitu saja. Aku tahu ini tampak kolot dan membosankan, tapi
kupastikan ini bagus untuk jiwamu, agar kau bisa bersemangat. Jadi lihat kesini
sebentar! Mulutku pasti sudah banyak berbuih apabila semua ini kukatakan
langsung padamu, itupun kalau kau bersedia mendengarkannya.
Tentu,
tiada ruginya membaca tulisanku ini barang sebentar saja, karena ini tentangmu…