Minggu, 03 Februari 2019

            Kalian ingin mendengar sepenggal kisah salah satu dari sekian banyak benda langit terpenting bagi bumi ini? Yang bisa menjadi penunjuk untuk menyadari berjalannya waktu selain jam, mungkin memang itulah tujuan Tuhan menciptakannya, apa lagi kalau bukan matahari dan bulan. Keduanya serupa, memiliki ‘tugas’ yang sama, tapi sebenarnya amat berbeda. Masing-masing memiliki ‘pesona’nya untuk dikagumi seluruh alam. Bukan maksudku membuat kalian memilih salah satu yang lebih ‘hebat’. Tentu tak ada satu pun diantaranya, ciptaan-Nya selalu sempurna bukan? Tidak berniat pula untuk ‘mendewa’kan satu pihak saja.
           Tujuanku menulis ini hanya untuk menuangkan imajinasiku. Imajinasiku yang mungkin kini telah ada di batas tertingginya. Jadi aku minta maaf jika kalian akan kesulitan memahaminya. Percayalah, aku cuma semata ingin mendapatkan ketenangan hati dan sensasi ‘lega’ yang bisa kurasakan setelah menulis ini. Kalian tahu apa imajinasiku itu? Aku membayangkan menjadi salah satu dari benda langit itu. Bisa dibilang aku merasa mirip, juga senasib, karena rasa empatiku padanya itu membuatku sadar bahwa kisah yang sedang kualami ini bisa kusangkut pautkan dengan segala hal tentangnya, si matahari.
            Benda langit berbentuk bundar, terbit di ufuk timur setiap fajarnya, dan menerangi bumi hingga petang menjelang. Matahari yang selalu memaksa setiap manusia untuk mengakhiri mimpinya, membuka mata, dan kembali ke kehidupan nyata. Dan saat itulah manusia terkadang akan mengumpat,
           ‘Ah, kenapa cepat sekali pagi?! Aku masih mengantuk, padahal mimpiku sudah hampir mencapai bagian terbaiknya tadi! ‘
Atau, ‘ Oh tidak! Aku terlambat! Cih, andai saja malam hari lebih lama lagi agar aku bisa beristirahat dengan puas! ‘ dan sebagainya…
           Mungkin sesekali kita semua pernah ‘membenci’ matahari. Kehadirannya seolah tidak diinginkan. Beberapa bahkan menghindarinya. Terlalu silau katanya, mata menjadi sakit, membuat dahaga di kerongkongan meningkat, kulit bisa menghitam karenanya, dan terkadang panas yang ditimbulkannya mengingatkan kita pada neraka yang amat ditakuti setiap umat itu.
          Tapi, pernahkah kalian berpikir bagaimana bila seandainya matahari itu memiliki perasaan, hanya saja ia tak bisa mengatakannya. Mungkin saja ia bergumam dalam hatinya, seperti ini misalnya…
        ‘ Kenapa kalian menghindariku? Padahal aku sudah berusaha melakukan yang terbaik. Memancarkan sinarku seterang mungkin, berharap kalian akan bahagia, bersemangat, terbantu, bahkan bersyukur karena bisa merasakan kehangatanku. Baik, mungkin kalian memang memanfaatkannya. Aku amat berguna dalam berbagai hal di kehidupan kalian, kan? Namun, tetap saja terkadang kalian tak suka. Bukan ku mengharapkan ucapan terima kasih, imbalan, atau semacamnya. Aku hanya ingin kalian tersenyum tulus karenaku, jadi aku akan benar-benar merasa ‘hidup’. Tapi kupikir, dizaman ini mana ada manusia yang meluangkan waktu untuk sejenak mengagumi keindahan ciptaan-Nya dan menyadari maknanya? Beratnya beban hidup pasti menuntut kalian untuk ‘buta’ dan ‘tuli’ dari hal-hal seperti itu.  
          Aku bersinar terang, tidak berarti aku akan selalu ‘bahagia’. Ada saatnya sekumpulan awan gelap akan menutupiku, dan aku hanya bisa sedikit mengintip dari celahnya tanpa bisa melakukan apapun. Membuat kalian para manusia berpikir aku ini plin-plan. Sebentar terlihat cerah, tak lama kemudian berubah suram, begitu seterusnya. Hei, kalian harus tahu jika itu bukan keinginanku! Aku selalu ada disini untuk kalian! Tapi Penciptaku Maha Adil, Ia punya banyak rencana lain yang harus kuterima meski tak menginginkannya.
        Sebanyak apapun aku ingin terus bersinar, ada saatnya aku akan digantikan, dan kalian pun akan membutuhkan yang lain selain aku. Aku mungkin adalah yang paling terang, tapi bukan satu-satunya di galaksi ini, iya kan? Dan kenyataan itu membuatku sedih, kalian tahu? Egois? Silakan kalian mencaciku dengan sebutan itu, toh setiap makhluk setidaknya pernah sekali merasakan hal itu.
      Terkadang, aku ingin sekali menangis. Tapi rasanya aku tidak ditakdirkan untuk melakukan itu. Aku tercipta dari berbagai elemen bersifat panas yang ada di semesta. Bayangkan seandainya Tuhan menganugerahiku dengan sepasang mata dan sebuah hati. Ketika aku mengeluarkan air mata, tetap saja kalian takkan bisa melihatnya. Air mata itu akan mengering bahkan sebelum kujatuhkan dari pelupuk mata, karena terlanjur tertelan oleh ‘panas’nya diriku.
     Di satu sisi aku bersyukur, aku jadi tak perlu menunjukkan kesedihanku pada kalian. Tuhan menciptakan teman-temanku seperti si ‘awan’, ‘hujan’, dan ‘kilat’. Bagiku mereka bisa menjadi ‘perwakilan’ dari perasaanku. Kalian cukup mengenalku sebagai ‘matahari’ yang selalu bahagia saja. Dengan begitu aku akan merasa kuat.
       Jangan menyakitiku dengan semua umpatan dan perkataan buruk kalian dibelakangku. Tolong semangati aku dengan harapan kalian yang ingin melihat langit biru, maka aku akan bersinar secerah mungkin. Katakan padaku jika kabut di pagi hari terlalu tebal, udara disekitar menjadi dingin, maka aku akan ‘memeluk’ kalian dengan hangatnya sinarku. Dan sesekali saat kalian sedang bersedih, menengoklah kearahku sebentar saja. Kalian akan merasa memiliki harapan, sebab Sang Khalik menciptakanku sebagai perlambang dari ‘semangat yang membara’. Aku diizinkan bersinar hingga alam ini akan hancur nantinya. Sampai saat itu tiba, aku berjanji akan selalu bersinar secerah yang aku bisa, tak akan terlihat sedih, dan terus bersemangat. Aku harap semangatku ini bisa menular pada hati setiap insan seperti kalian, bahkan ketika aku terbenam dan digantikan oleh si ‘bulan’ pun, kalian bisa tetap merasakan betapa melimpahnya semangatku ini. Hargai setiap usahaku demi menjadi berarti bagi kalian dan jangan menyia-nyiakannya dengan mengeluh saja.
      Sebab itulah tugasku, mencintai kalian dengan cara seperti ini tanpa pernah menangis… ‘
    Bagaimana? Apa kalian langsung menengadah ke langit dan menatap matahari sesaat setelah membacanya?
Ya, kurang lebih seperti itulah imajinasiku tentang matahari, hal itu yang membuatku selalu mengaguminya. Seandainya bisa, ingin sekali aku berlari keatas langit, untuk menghampiri matahari dan memeluknya, untuk mengatakan betapa inginnya aku menjadi seperti dia.
      Bersinar cerah, ceria, dan bersemangat, seburuk apapun hal yang kualami serta sesakit apapun perasaan di hatiku, tanpa pernah meminta balasan… “
           

           
           
           

Himawari no Uchinaru Koe . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates