Taiyou no Namida
Kalian ingin mendengar sepenggal kisah salah satu dari sekian banyak benda
langit terpenting bagi bumi ini? Yang bisa menjadi penunjuk untuk menyadari
berjalannya waktu selain jam, mungkin memang itulah tujuan Tuhan
menciptakannya, apa lagi kalau bukan matahari dan bulan. Keduanya serupa,
memiliki ‘tugas’ yang sama, tapi sebenarnya amat berbeda. Masing-masing
memiliki ‘pesona’nya untuk dikagumi seluruh alam. Bukan maksudku membuat kalian
memilih salah satu yang lebih ‘hebat’. Tentu tak ada satu pun diantaranya, ciptaan-Nya
selalu sempurna bukan? Tidak berniat pula untuk ‘mendewa’kan satu pihak saja.
Tujuanku
menulis ini hanya untuk menuangkan imajinasiku. Imajinasiku yang mungkin kini
telah ada di batas tertingginya. Jadi aku minta maaf jika kalian akan kesulitan
memahaminya. Percayalah, aku cuma semata ingin mendapatkan ketenangan hati dan
sensasi ‘lega’ yang bisa kurasakan setelah menulis ini. Kalian tahu apa
imajinasiku itu? Aku membayangkan menjadi salah satu dari benda langit itu.
Bisa dibilang aku merasa mirip, juga senasib, karena rasa empatiku padanya itu
membuatku sadar bahwa kisah yang sedang kualami ini bisa kusangkut pautkan
dengan segala hal tentangnya, si matahari.
Benda
langit berbentuk bundar, terbit di ufuk timur setiap fajarnya, dan menerangi
bumi hingga petang menjelang. Matahari yang selalu memaksa setiap manusia untuk
mengakhiri mimpinya, membuka mata, dan kembali ke kehidupan nyata. Dan saat
itulah manusia terkadang akan mengumpat,
‘Ah, kenapa cepat sekali pagi?! Aku masih
mengantuk, padahal mimpiku sudah hampir mencapai bagian terbaiknya tadi! ‘
Atau, ‘
Oh tidak! Aku terlambat! Cih, andai saja malam hari lebih lama lagi agar aku
bisa beristirahat dengan puas! ‘ dan sebagainya…
Mungkin
sesekali kita semua pernah ‘membenci’ matahari. Kehadirannya seolah tidak
diinginkan. Beberapa bahkan menghindarinya. Terlalu silau katanya, mata menjadi
sakit, membuat dahaga di kerongkongan meningkat, kulit bisa menghitam karenanya,
dan terkadang panas yang ditimbulkannya mengingatkan kita pada neraka yang amat
ditakuti setiap umat itu.
Tapi,
pernahkah kalian berpikir bagaimana bila seandainya matahari itu memiliki
perasaan, hanya saja ia tak bisa mengatakannya. Mungkin saja ia bergumam dalam
hatinya, seperti ini misalnya…
‘
Kenapa kalian menghindariku? Padahal aku sudah berusaha melakukan yang terbaik.
Memancarkan sinarku seterang mungkin, berharap kalian akan bahagia, bersemangat,
terbantu, bahkan bersyukur karena bisa merasakan kehangatanku. Baik, mungkin
kalian memang memanfaatkannya. Aku amat berguna dalam berbagai hal di kehidupan
kalian, kan? Namun, tetap saja terkadang kalian tak suka. Bukan ku mengharapkan
ucapan terima kasih, imbalan, atau semacamnya. Aku hanya ingin kalian tersenyum
tulus karenaku, jadi aku akan benar-benar merasa ‘hidup’. Tapi kupikir, dizaman
ini mana ada manusia yang meluangkan waktu untuk sejenak mengagumi keindahan
ciptaan-Nya dan menyadari maknanya? Beratnya beban hidup pasti menuntut kalian
untuk ‘buta’ dan ‘tuli’ dari hal-hal seperti itu.
Aku
bersinar terang, tidak berarti aku akan selalu ‘bahagia’. Ada saatnya sekumpulan
awan gelap akan menutupiku, dan aku hanya bisa sedikit mengintip dari celahnya
tanpa bisa melakukan apapun. Membuat kalian para manusia berpikir aku ini
plin-plan. Sebentar terlihat cerah, tak lama kemudian berubah suram, begitu
seterusnya. Hei, kalian harus tahu jika itu bukan keinginanku! Aku selalu ada
disini untuk kalian! Tapi Penciptaku Maha Adil, Ia punya banyak rencana lain
yang harus kuterima meski tak menginginkannya.
Sebanyak
apapun aku ingin terus bersinar, ada saatnya aku akan digantikan, dan kalian
pun akan membutuhkan yang lain selain aku. Aku mungkin adalah yang paling
terang, tapi bukan satu-satunya di galaksi ini, iya kan? Dan kenyataan itu
membuatku sedih, kalian tahu? Egois? Silakan kalian mencaciku dengan sebutan
itu, toh setiap makhluk setidaknya pernah sekali merasakan hal itu.
Terkadang,
aku ingin sekali menangis. Tapi rasanya aku tidak ditakdirkan untuk melakukan
itu. Aku tercipta dari berbagai elemen bersifat panas yang ada di semesta.
Bayangkan seandainya Tuhan menganugerahiku dengan sepasang mata dan sebuah
hati. Ketika aku mengeluarkan air mata, tetap saja kalian takkan bisa
melihatnya. Air mata itu akan mengering bahkan sebelum kujatuhkan dari pelupuk
mata, karena terlanjur tertelan oleh ‘panas’nya diriku.
Di
satu sisi aku bersyukur, aku jadi tak perlu menunjukkan kesedihanku pada
kalian. Tuhan menciptakan teman-temanku seperti si ‘awan’, ‘hujan’, dan
‘kilat’. Bagiku mereka bisa menjadi ‘perwakilan’ dari perasaanku. Kalian cukup
mengenalku sebagai ‘matahari’ yang selalu bahagia saja. Dengan begitu aku akan
merasa kuat.
Jangan
menyakitiku dengan semua umpatan dan perkataan buruk kalian dibelakangku.
Tolong semangati aku dengan harapan kalian yang ingin melihat langit biru, maka
aku akan bersinar secerah mungkin. Katakan padaku jika kabut di pagi hari
terlalu tebal, udara disekitar menjadi dingin, maka aku akan ‘memeluk’ kalian
dengan hangatnya sinarku. Dan sesekali saat kalian sedang bersedih, menengoklah
kearahku sebentar saja. Kalian akan merasa memiliki harapan, sebab Sang Khalik
menciptakanku sebagai perlambang dari ‘semangat yang membara’. Aku diizinkan
bersinar hingga alam ini akan hancur nantinya. Sampai saat itu tiba, aku
berjanji akan selalu bersinar secerah yang aku bisa, tak akan terlihat sedih,
dan terus bersemangat. Aku harap semangatku ini bisa menular pada hati setiap
insan seperti kalian, bahkan ketika aku terbenam dan digantikan oleh si ‘bulan’
pun, kalian bisa tetap merasakan betapa melimpahnya semangatku ini. Hargai
setiap usahaku demi menjadi berarti bagi kalian dan jangan menyia-nyiakannya
dengan mengeluh saja.
Sebab
itulah tugasku, mencintai kalian dengan cara seperti ini tanpa pernah menangis…
‘
Bagaimana?
Apa kalian langsung menengadah ke langit dan menatap matahari sesaat setelah
membacanya?
Ya, kurang lebih seperti itulah imajinasiku
tentang matahari, hal itu yang membuatku selalu mengaguminya. Seandainya bisa,
ingin sekali aku berlari keatas langit, untuk menghampiri matahari dan memeluknya,
untuk mengatakan betapa inginnya aku menjadi seperti dia.
Bersinar
cerah, ceria, dan bersemangat, seburuk apapun hal yang kualami serta sesakit
apapun perasaan di hatiku, tanpa pernah meminta balasan…
“
