Eternal Fireworks
Aku
sangat menyukai musim panas sebenarnya, walau aku terlahir di musim hujan, lima
hari setelah tahun baru tepatnya. Ah, bicara tahun baru, aku jadi ingin kembali
merasakannya, tapiitu terjadi belum lama, jadi aku masih harus menunggu
tampaknya. Namun, tahun baru terakhir yang kemarin itu adalah yang terburuk
bagiku jika kuboleh jujur.
Bisa
kalian bayangkan? Aku hanya duduk di balkon rumahku, menengadah ke langit
sampai leherku ini terasa pegal, sambil merenung sebanyak-banyaknya, menghitung
mundur waktu, dengan keadaan hati yang sedang teramat hancur. Untungnya, ada
satu hal dari tahun baru yang selalu bisa kunikmati, yakni kembang api. Tapi
entah kenapa untuk yang saat itu, malah terasa menyakitkan melihatnya, padahal
mereka sudah begitu cantik. Jika saja bisa, aku ingin sekali ikut bersama
dengan mereka, melesat dengan cepat ke langit, berpendar indah walau hanya
beberapa saat, lalu hilang menjadi serpihan tanpa pernah diingat lagi.
Sebuah
lagu membuatku menjadi memetaforakan kembang api itu dengan kisah cintaku,
sebab mereka terlihat sama. Aku jadi menangis bahkan lama setelah lagu itu
selesai kuputar.
Tanpa
kuperintah, pikiranku melayang ke beberapa tahun lalu saat ku pertama kalinya
menyukai lagu ini, beriringan dengan pertemuan pertamaku dengannya, sekaligus
awal mula terjadinya cerita cinta kami. Ketika itu, kami tak perlu apa-apa
untuk bisa menikmati lagu ini, cukup duduk bersebelahan dan mendengarkannya
dengan seksama.
Dalam
lagu itu menyiratkan, bahwa sesungguhnya di dunia ini tak ada satupun yang
abadi, termasuk cinta. Sesungguhnya aku tak ingin mempercayai teori itu, aku
punya persepsi berbeda mengenai cinta, dan orang bilang pola pikirku itu
terlalu naïf. Ternyata benar, cinta tak semudah membaca dongeng yang selalu
berakhir dengan kalimat ‘…. Dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya…’.
Seperti
kembang api, cinta akan berlangsung dengan cepat tanpa disadari, lalu akan
meledak dan memancarkan jutaan kilau cahaya yang indah, gema suaranya pun bagai
detak jantung yang berdentum kencang karena jatuh cinta, namun kemudian
menghilang bagaikan sihir, tersamarkan oleh kegelapan malam, dan hilang
selamanya. Tak ada orang yang persis mengingat bentuk dan warna dari
masing-masing kembang api yang muncul setiap tahunnya bukan?
Baiklah,
kini keberadaanku sama dengannya, kembang api yang tak abadi, yang dahulu amat
cantik dan dicintai, kini harus hilang, entah untuk digantikan, atau memang
sudah tiba gilirannya untuk aku tak terlihat lagi. Tuhan, tidak bisakah aku
menjadi ‘kembang api’ pertama yang tak bisa padam selamanya? Aku tak butuh
tempat seluas langit untuk berpijar, aku hanya ingin bersinar di hatinya saja,
untuk memancarkan ribuan warna, demi membangkitkan jiwanya, dan meledakkan
setiap hal buruk yang datang, agar dia selalu merasa bahagia. Aku tak ingin
dilihat banyak orang, aku tidak cukup indah untuk dikagumi, tidak seterang yang
mereka harapkan, aku cuma berharap dia menyadari kehadiranku disini, aku tak
pernah pergi, tapi kenapa hatinya masih saja terasa gelap? Apa aku gagal
melakukan tugasku?
Benar,
aku baru ingat. Ada benda lain dilangit yang jauh lebih cantik dariku, itu
bintang. Tentu saja, perhatiannya pasti akan lebih teralihkan pada bintang itu.
Bagaimana tidak? Mereka lebih menjanjikan banyak hal dibanding aku. Mereka akan
terus ada setiap malamnya, sedangkan aku hanya bisa dilihat di malam tahun
baru, itupun hanya sebentar, karena kembang api bukan cuma aku seorang, aku
harus berbagi angkasa dengan teman-temanku yang lain.
Begitupun
kau, yang akan menjadi salah satu dari orang yang jatuh pada pesona bintang
itu, dan melupakanku. Egois memang jika memintamu berdiam di satu tempat saja,
disisiku. Kau masih begitu muda, hidupmu masih panjang, ada banyak hal yang
harus kau lihat dan rasakan, ada beberapa peraturan yang bisa kau langgar
dengan kenakalanmu, untuk mendapatkan sensasi puas yang menyenangkan. Impianmu
juga masih harus kau kejar dengan bermacam cara, meski harus berjalan tertatih
sekalipun. Apa itu arti masa muda yang kau inginkan?
Satu
pintaku, berkenankah kau mengizinkanku tinggal di relung batinmu? Aku takkan
mengganggumu, aku bahkan tak akan bersuara. Aku hanya ingin memenuhi kata
hatiku yang malangnya ingin terus mendampingimu dengan cinta, melindungimu dari
rasa sakit, serta akan menyebut namamu dalam setiap doa yang kupanjatkan pada
Sang Ilahi.
Ketahuilah,
bukan perkara belas kasihan juga balas budi yang kita bicarakan disini. Kalau
hatiku ikhlas melakukannya tanpa pamrih kau bisa apa? Diam dan rasakanlah
cintaku sampai kau muak. Toh kelak ada saatnya kau akan memerlukan hal seperti
ini, dan kujamin kau takkan bisa dengan mudah menemukannya.
Kebahagiaan
juga harga diri bukanlah prioritasku, selama tidak melewati batas kewajaran,
aku tak keberatan menjatuhkan itu semua. Aku juga akan senang menjadi konyol
didepanmu, hanya agar bibirmu itu membentuk sebuah senyuman.
Pria
yang kucintai, tapi mungkin tak mencintaiku lagi, jangan takut, aku akan
berdiam untuk waktu yang tidak sebentar dihatimu. Mengaduh saja padaku jika ada
seseorang yang menyakitimu, aku akan memukul wajahnya. Menangis saja bila
matamu sudah tak mampu menahan perihnya luka hati, aku akan menadahi air matamu
dan mengeringkannya.
Karena
itulah caraku mencintaimu. Kau ingin tahu siapa aku? Perkenalkan, aku si
‘Kembang Api yang Tak Bisa Padam’…
Sekalipun aku jauh dari kata sempurna, tapi
percayalah pada kekuatanku yang hebat ini, jadi tersenyumlah, aku tak akan
pernah lelah mencintaimu...
