Minggu, 03 Februari 2019


           
Cuaca hari ini sangat cerah, ya? Tentu, sekarang sudah hampir pertengahan tahun, itu artinya negeri ini akan memasuki musim kemarau. Meskipun segelintir kalangan berpendapat bahwa musim apapun di bumi saat ini tak ada bedanya, semesta ini seakan sudah bekerja diluar yang seharusnya, sehingga semua mulai berantakan, mereka menyebutnya ‘pemanasan global’.
            Aku sangat menyukai musim panas sebenarnya, walau aku terlahir di musim hujan, lima hari setelah tahun baru tepatnya. Ah, bicara tahun baru, aku jadi ingin kembali merasakannya, tapiitu terjadi belum lama, jadi aku masih harus menunggu tampaknya. Namun, tahun baru terakhir yang kemarin itu adalah yang terburuk bagiku jika kuboleh jujur.
            Bisa kalian bayangkan? Aku hanya duduk di balkon rumahku, menengadah ke langit sampai leherku ini terasa pegal, sambil merenung sebanyak-banyaknya, menghitung mundur waktu, dengan keadaan hati yang sedang teramat hancur. Untungnya, ada satu hal dari tahun baru yang selalu bisa kunikmati, yakni kembang api. Tapi entah kenapa untuk yang saat itu, malah terasa menyakitkan melihatnya, padahal mereka sudah begitu cantik. Jika saja bisa, aku ingin sekali ikut bersama dengan mereka, melesat dengan cepat ke langit, berpendar indah walau hanya beberapa saat, lalu hilang menjadi serpihan tanpa pernah diingat lagi.
            Sebuah lagu membuatku menjadi memetaforakan kembang api itu dengan kisah cintaku, sebab mereka terlihat sama. Aku jadi menangis bahkan lama setelah lagu itu selesai kuputar.
            Tanpa kuperintah, pikiranku melayang ke beberapa tahun lalu saat ku pertama kalinya menyukai lagu ini, beriringan dengan pertemuan pertamaku dengannya, sekaligus awal mula terjadinya cerita cinta kami. Ketika itu, kami tak perlu apa-apa untuk bisa menikmati lagu ini, cukup duduk bersebelahan dan mendengarkannya dengan seksama.
            Dalam lagu itu menyiratkan, bahwa sesungguhnya di dunia ini tak ada satupun yang abadi, termasuk cinta. Sesungguhnya aku tak ingin mempercayai teori itu, aku punya persepsi berbeda mengenai cinta, dan orang bilang pola pikirku itu terlalu naïf. Ternyata benar, cinta tak semudah membaca dongeng yang selalu berakhir dengan kalimat ‘…. Dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya…’.
            Seperti kembang api, cinta akan berlangsung dengan cepat tanpa disadari, lalu akan meledak dan memancarkan jutaan kilau cahaya yang indah, gema suaranya pun bagai detak jantung yang berdentum kencang karena jatuh cinta, namun kemudian menghilang bagaikan sihir, tersamarkan oleh kegelapan malam, dan hilang selamanya. Tak ada orang yang persis mengingat bentuk dan warna dari masing-masing kembang api yang muncul setiap tahunnya bukan?
            Baiklah, kini keberadaanku sama dengannya, kembang api yang tak abadi, yang dahulu amat cantik dan dicintai, kini harus hilang, entah untuk digantikan, atau memang sudah tiba gilirannya untuk aku tak terlihat lagi. Tuhan, tidak bisakah aku menjadi ‘kembang api’ pertama yang tak bisa padam selamanya? Aku tak butuh tempat seluas langit untuk berpijar, aku hanya ingin bersinar di hatinya saja, untuk memancarkan ribuan warna, demi membangkitkan jiwanya, dan meledakkan setiap hal buruk yang datang, agar dia selalu merasa bahagia. Aku tak ingin dilihat banyak orang, aku tidak cukup indah untuk dikagumi, tidak seterang yang mereka harapkan, aku cuma berharap dia menyadari kehadiranku disini, aku tak pernah pergi, tapi kenapa hatinya masih saja terasa gelap? Apa aku gagal melakukan tugasku?
            Benar, aku baru ingat. Ada benda lain dilangit yang jauh lebih cantik dariku, itu bintang. Tentu saja, perhatiannya pasti akan lebih teralihkan pada bintang itu. Bagaimana tidak? Mereka lebih menjanjikan banyak hal dibanding aku. Mereka akan terus ada setiap malamnya, sedangkan aku hanya bisa dilihat di malam tahun baru, itupun hanya sebentar, karena kembang api bukan cuma aku seorang, aku harus berbagi angkasa dengan teman-temanku yang lain.
            Begitupun kau, yang akan menjadi salah satu dari orang yang jatuh pada pesona bintang itu, dan melupakanku. Egois memang jika memintamu berdiam di satu tempat saja, disisiku. Kau masih begitu muda, hidupmu masih panjang, ada banyak hal yang harus kau lihat dan rasakan, ada beberapa peraturan yang bisa kau langgar dengan kenakalanmu, untuk mendapatkan sensasi puas yang menyenangkan. Impianmu juga masih harus kau kejar dengan bermacam cara, meski harus berjalan tertatih sekalipun. Apa itu arti masa muda yang kau inginkan?
            Satu pintaku, berkenankah kau mengizinkanku tinggal di relung batinmu? Aku takkan mengganggumu, aku bahkan tak akan bersuara. Aku hanya ingin memenuhi kata hatiku yang malangnya ingin terus mendampingimu dengan cinta, melindungimu dari rasa sakit, serta akan menyebut namamu dalam setiap doa yang kupanjatkan pada Sang Ilahi.
            Ketahuilah, bukan perkara belas kasihan juga balas budi yang kita bicarakan disini. Kalau hatiku ikhlas melakukannya tanpa pamrih kau bisa apa? Diam dan rasakanlah cintaku sampai kau muak. Toh kelak ada saatnya kau akan memerlukan hal seperti ini, dan kujamin kau takkan bisa dengan mudah menemukannya.
            Kebahagiaan juga harga diri bukanlah prioritasku, selama tidak melewati batas kewajaran, aku tak keberatan menjatuhkan itu semua. Aku juga akan senang menjadi konyol didepanmu, hanya agar bibirmu itu membentuk sebuah senyuman.
            Pria yang kucintai, tapi mungkin tak mencintaiku lagi, jangan takut, aku akan berdiam untuk waktu yang tidak sebentar dihatimu. Mengaduh saja padaku jika ada seseorang yang menyakitimu, aku akan memukul wajahnya. Menangis saja bila matamu sudah tak mampu menahan perihnya luka hati, aku akan menadahi air matamu dan mengeringkannya.
            Karena itulah caraku mencintaimu. Kau ingin tahu siapa aku? Perkenalkan, aku si ‘Kembang Api yang Tak Bisa Padam’…
Sekalipun aku jauh dari kata sempurna, tapi percayalah pada kekuatanku yang hebat ini, jadi tersenyumlah, aku tak akan pernah lelah mencintaimu...

Himawari no Uchinaru Koe . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates