Minggu, 03 Februari 2019


          
           Hai Kertas Putih, lama tak jumpa, ya? Maaf, semua tugas dan pekerjaan itu membuatku gila, tak punya banyak waktu luang. Jadi, maklumi saja karena aku memang sedang tak bisa bertemu denganmu.
Sebenarnya ada satu alasan lagi, tapi kalau kukatakan, apa kau akan kecewa karenanya?
            Aku menghindarimu, dan aku melakukannya dengan sengaja. Sebab, kau ingat? Terakhir sejak aku menulis sesuatu tentang perasaanku, sepertinya telah ada beberapa orang yang membacanya. Beberapa mengatakan, kemampuanku bermain kata begitu baik. Setiap kata dalam paragraf itu menyesap dengan hangat ke hati mereka, membuahkan rasa empati penuh haru. Hidungku mengembang dan bibirku tertarik keatas, bangga.
            Hanya beberapa, mungkin juga termasuk ‘dia’. Dia yang menjadi alasanku merangkai barisan huruf itu. Entah apa yang dia pikirkan saat membacanya, namun sepertinya tulisanku itu berdampak kurang menyenangkan bagi hatinya. Mungkin merasa tersinggung, sekaligus terenyuh, kelewat tersanjung akan kejujuran nurani yang kutumpahkan disana.
            Singkat saja Kertas Putih, aku takut dia salah paham atau membuat penyangkalan pada hatinya sendiri setelah membacanya. Apa pemilihan kata yang kugunakan rancu? Mungkin gaya bahasaku yang terlalu rumit dan kolot? Atau justru memang perasaanku yang salah? Jadi, mengungkapkan perasaan dengan terlalu jujur adalah perbuatan yang tidak benar? Berarti, menulis semua itu menjadi keputusan yang gegabah? Ah, aku membuat ‘tujuan’ku membenci ‘proses’ yang kulalui untuk menghampirinya. Terdengar bodoh bukan?
            Siapa yang menyakiti siapa sesungguhnya? Tuhan, kau dimana? Aku ingin sekali bertanya dan mendapat jawaban secepatnya! Tapi bagaimana?
Demi Tuhan, aku tak bermaksud menyudutkannya. Dia tak mendapat ‘peran antagonis’ disana. Dengan kata lain, aku tak pernah menganggapnya sebagai orang jahat apalagi membencinya. Juga bukan berarti aku menghantuinya hanya demi mengemis sebuah permintaan maaf atau sekadar perhatian kecil darinya. Aku hanya berharap dengan membaca tulisanku, ia bisa mengetahui apa yang kupikirkan dan rasakan mengenai drama cinta yang sedang kami mainkan ini, dari sudut pandangku sendiri, sejujur yang kutahu.
            Sebab aku tahu Kertas Putih, berbicara empat mata dengannya apalagi untuk waktu yang lama adalah pengharapan tanpa akhir untukku, itu sulit, teramat sangat. Aku tak pernah merasa serumit ini selama hidupku, ini yang pertama, dan sialnya aku tak pernah jera. Berhenti disaat seperti ini akan membuat nyawaku terasa sia-sia.
            Meskipun sampai detik ini aku belum tahu akan dibawa kemana kejujuran hati ini. Mereka bagai memiliki kepribadian ganda, kau tahu? Yang satu sangat jujur berkata seperti ini, ‘ Aku sungguh merasa dia masih sangat mencintaiku. Lihat saja itu, sekalipun ada banyak wanita yang mendekatinya, dan dia juga tampaknya tak keberatan sama sekali. Tapi dia tidak bahagia, setidaknya merasa kosong. Senang tidak, sedih pun tidak. Hidup baru yang dia tunjukkan itu terasa getir, tak ada cinta sama sekali disana. Dan aku masih ingin bertahan, dia seperti masih memberikan beberapa pertanda padaku. Aku hanya harus lebih lihai dan sabar dalam memahaminya. ‘
‘ Ah, tidak. Aku tidak boleh terlalu percaya diri. Dia tampaknya sangat dekat dengan wanita itu. Dia bahkan lebih memilih mengacuhkanku. Mereka sepertinya punya banyak rahasia, yang tampaknya terlalu menyakitkan untuk kuketahui. Wanita itu juga jelas lebih menarik daripada aku. Dia cantik, suka menunjukkan kemolekan tubuhnya, memahami apa yang disukai pria, punya banyak teman, juga sangat pintar. Aku mirip Upik Abu bila harus disejajarkan dengannya. Namun aku masih belum ingin menyerah, bahkan tidak sama sekali. Aku belum menyelamatkan jiwanya, aku belum melihatnya kembali tersenyum tulus seperti dulu ketika masih bersamaku. Untuk itu, aku tak boleh lemah. ‘ Demikian kata yang satu lagi.
            Kertas Putih, apa yang harus kulakukan? Andai saja tulisan ini tidak kuciptakan dalam bentuk digital, melainkan benar - benar kutulis dengan tangan, pasti kertas itu sudah penuh dengan bekas air mata, hurufnya pun takkan ada yang bisa terbaca.
            Aku rasa aku tahu cara agar aku bisa tetap menulis untuk mencurahkan isi hati tanpa diketahui, meskipun aku tahu itu mustahil. Aku akan menggunakan tinta putih untuk menulis. Ya, tinta putih untuk kertas putih. Serasi kan? Jadi aku takkan khawatir ada yang membacanya.
            Tapi tunggu dulu! Tinta putih yang kupunya ini bukan tinta biasa. Dilihat sekilas, memang takkan terlihat apapun jika kutulis di kertas putih, namun sebenarnya bisa. Butuh semacam penglihatan khusus untuk bisa melihatnya. Mungkin kau harus membacanya dengan hatimu, bukan matamu. Hebat sekali kan? Semacam itulah perasaanku saat ini.
            Hei kau! Iya, kau yang kuharap membaca tulisanku ini. Kutegaskan lagi, entah sudah keberapa kalinya. Aku tak pernah membencimu, baik, mungkin sesekali aku hanya merasa kesal atau cemburu. Aku juga tak akan pernah menyerah untuk mengembalikan dirimu seperti yang dulu lagi. Mempesona, pintar, bijaksana, sedikit angkuh, punya nafsu makan yang besar, dan selalu membuatku merasa memiliki impian bersamamu. Dan yang paling harus kau ketahui, aku mencintaimu… selalu. Tak peduli bagaimana denganmu, tapi milikku ini tak pernah berubah hingga kini. Kau akan tetap bertahta sebagai orang yang berharga bagiku. Sudah cukup jelas untuk kau baca? Aku harap iya...

           
           

Himawari no Uchinaru Koe . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates