Tinta Putih untuk Kertas Putih
Aku menghindarimu, dan aku
melakukannya dengan sengaja. Sebab, kau ingat? Terakhir sejak aku menulis
sesuatu tentang perasaanku, sepertinya telah ada beberapa orang yang
membacanya. Beberapa mengatakan, kemampuanku bermain kata begitu baik. Setiap
kata dalam paragraf itu menyesap dengan hangat ke hati mereka, membuahkan rasa
empati penuh haru. Hidungku mengembang dan bibirku tertarik keatas, bangga.
Hanya beberapa, mungkin juga
termasuk ‘dia’. Dia yang menjadi alasanku merangkai barisan huruf itu. Entah
apa yang dia pikirkan saat membacanya, namun sepertinya tulisanku itu berdampak
kurang menyenangkan bagi hatinya. Mungkin merasa tersinggung, sekaligus
terenyuh, kelewat tersanjung akan kejujuran nurani yang kutumpahkan disana.
Singkat saja Kertas Putih, aku takut
dia salah paham atau membuat penyangkalan pada hatinya sendiri setelah
membacanya. Apa pemilihan kata yang kugunakan rancu? Mungkin gaya bahasaku yang
terlalu rumit dan kolot? Atau justru memang perasaanku yang salah? Jadi,
mengungkapkan perasaan dengan terlalu jujur adalah perbuatan yang tidak benar?
Berarti, menulis semua itu menjadi keputusan yang gegabah? Ah, aku membuat
‘tujuan’ku membenci ‘proses’ yang kulalui untuk menghampirinya. Terdengar bodoh
bukan?
Siapa yang menyakiti siapa
sesungguhnya? Tuhan, kau dimana? Aku ingin sekali bertanya dan mendapat jawaban
secepatnya! Tapi bagaimana?
Demi
Tuhan, aku tak bermaksud menyudutkannya. Dia tak mendapat ‘peran antagonis’
disana. Dengan kata lain, aku tak pernah menganggapnya sebagai orang jahat
apalagi membencinya. Juga bukan berarti aku menghantuinya hanya demi mengemis
sebuah permintaan maaf atau sekadar perhatian kecil darinya. Aku hanya berharap
dengan membaca tulisanku, ia bisa mengetahui apa yang kupikirkan dan rasakan
mengenai drama cinta yang sedang kami mainkan ini, dari sudut pandangku
sendiri, sejujur yang kutahu.
Sebab aku tahu Kertas Putih,
berbicara empat mata dengannya apalagi untuk waktu yang lama adalah pengharapan
tanpa akhir untukku, itu sulit, teramat sangat. Aku tak pernah merasa serumit
ini selama hidupku, ini yang pertama, dan sialnya aku tak pernah jera. Berhenti
disaat seperti ini akan membuat nyawaku terasa sia-sia.
Meskipun sampai detik ini aku belum
tahu akan dibawa kemana kejujuran hati ini. Mereka bagai memiliki kepribadian
ganda, kau tahu? Yang satu sangat jujur berkata seperti ini, ‘ Aku sungguh merasa dia masih sangat
mencintaiku. Lihat saja itu, sekalipun ada banyak wanita yang mendekatinya, dan
dia juga tampaknya tak keberatan sama sekali. Tapi dia tidak bahagia,
setidaknya merasa kosong. Senang tidak, sedih pun tidak. Hidup baru yang dia
tunjukkan itu terasa getir, tak ada cinta sama sekali disana. Dan aku masih
ingin bertahan, dia seperti masih memberikan beberapa pertanda padaku. Aku
hanya harus lebih lihai dan sabar dalam memahaminya. ‘
‘ Ah, tidak. Aku tidak boleh terlalu
percaya diri. Dia tampaknya sangat dekat dengan wanita itu. Dia bahkan lebih
memilih mengacuhkanku. Mereka sepertinya punya banyak rahasia, yang tampaknya terlalu
menyakitkan untuk kuketahui. Wanita itu juga jelas lebih menarik daripada aku.
Dia cantik, suka menunjukkan kemolekan tubuhnya, memahami apa yang disukai
pria, punya banyak teman, juga sangat pintar. Aku mirip Upik Abu bila harus
disejajarkan dengannya. Namun aku masih belum ingin menyerah, bahkan tidak sama
sekali. Aku belum menyelamatkan jiwanya, aku belum melihatnya kembali tersenyum
tulus seperti dulu ketika masih bersamaku. Untuk itu, aku tak boleh lemah. ‘ Demikian
kata yang satu lagi.
Kertas Putih, apa yang harus
kulakukan? Andai saja tulisan ini tidak kuciptakan dalam bentuk digital, melainkan benar - benar kutulis
dengan tangan, pasti kertas itu sudah penuh dengan bekas air mata, hurufnya pun
takkan ada yang bisa terbaca.
Aku rasa aku tahu cara agar aku bisa
tetap menulis untuk mencurahkan isi hati tanpa diketahui, meskipun aku tahu itu
mustahil. Aku akan menggunakan tinta putih untuk menulis. Ya, tinta putih untuk
kertas putih. Serasi kan? Jadi aku takkan khawatir ada yang membacanya.
Tapi tunggu dulu! Tinta putih yang
kupunya ini bukan tinta biasa. Dilihat sekilas, memang takkan terlihat apapun
jika kutulis di kertas putih, namun sebenarnya bisa. Butuh semacam penglihatan
khusus untuk bisa melihatnya. Mungkin kau harus membacanya dengan hatimu, bukan
matamu. Hebat sekali kan? Semacam itulah perasaanku saat ini.
Hei kau! Iya, kau yang kuharap
membaca tulisanku ini. Kutegaskan lagi, entah sudah
keberapa kalinya. Aku tak pernah membencimu, baik, mungkin sesekali aku hanya
merasa kesal atau cemburu. Aku juga tak akan pernah menyerah untuk
mengembalikan dirimu seperti yang dulu lagi. Mempesona, pintar, bijaksana,
sedikit angkuh, punya nafsu makan yang besar, dan selalu membuatku merasa
memiliki impian bersamamu. Dan yang paling harus kau ketahui, aku mencintaimu…
selalu. Tak peduli bagaimana denganmu, tapi milikku ini tak pernah berubah
hingga kini. Kau akan tetap bertahta sebagai orang yang berharga bagiku. Sudah
cukup jelas untuk kau baca? Aku harap iya...
