Midnight Diary
Begitu banyak hal yang kupikirkan, berkecamuk
sepenuhnya di kalbu, berdesakan masuk ke kepalaku, bingung memilih mana yang baiknya
lebih dahulu kupikirkan. Tuhan, apa kau tak keberatan bila aku bercerita sampai
matahari terbit nanti? Sebab hanya Engkaulah kuncianku saat ini. Hambamu yang
hina dan penuh dosa ini sedang memerlukan seseorang untuk menjadi tempat
mencurahkan isi hati. Kau tahu betapa menumpuknya emosi yang sedang kutanggung,
bukan? Semua bercampur dan menjadi kelewat banyak untuk dihitung. Bahagia,
sedih, kesal, dan bingung hanya beberapa diantaranya. Tak bisa kubedakan lagi
mana yang patut disyukuri atau disesali.
Cuma sekejap mata, Tuhan. Masa
mudaku yang secantik musim semi seketika berubah menjadi lahan tandus tak
berpenghuni. Topan itu ternyata cukup kuat untuk menerbangkan dan mengambil
hal-hal yang berharga bagiku. Kini aku sudah sangat memahami arti dari memiliki
dan kehilangan, telingaku ini sudah muak mendengar kata ‘hilang’, serta telah
terbiasa dengannya, tapi tak pernah bisa menerimanya.
Satupun dari kami tiada yang
menghendaki terjadinya hal ini. Yang aku dan mereka tahu hanya kisah cinta juga
persahabatan indah yang rasanya baru kemarin dialami. Namun apa yang terjadi
sekarang? Semua hilang dan berubah menjadi debu yang butirannya pun tak bisa
kulihat lagi. Tinggal aku yang tersisa disini, melanjutkan hidup, mencoba
menerima takdir, dengan tetap menggenggam serpihan kenangan dari masa lalu.
Jangan sebut itu hal bodoh, sebab kenangan tersebutlah yang akan selalu menjadi
alasanku untuk berbahagia serta tetap bisa bertopang pada impianku.
Dihantui rasa takut kehilangan ini
begitu membunuhku. Bukan perkara mudah melepaskan orang yang pergi secara
mendadak, tanpa alasan, dan juga tak mengucapkan selamat tinggal. Walau ku tahu
dia juga bergetar di balik punggungnya, tapi bukan berarti yang dilakukannya
ini tidak terasa sakit. Hatiku ini hanyalah sebuah bongkahan lunak dan tidak
tercipta dari partikel keras serupa baja. Oh, lupakan! Anggap saja aku cuma
berlagak lemah tadi, kalian tahu kan betapa kuatnya aku ini? Yang seperti itu
takkan berpengaruh banyak buatku.
Dibanding menghitung balasan yang
bisa kuterima atau memikirkan kebahagiaan apa yang bisa kudapat, tanpa dendam
sedikitpun, aku akan terus berada disampingnya tanpa terlihat. Mendoakannya
adalah cara terbaik mencintainya untuk saat ini. Bukan hanya padanya Tuhan,
tapi pada semua orang yang kucintai.
