Minggu, 03 Februari 2019


          
Tepat dinihari ini aku terjaga dari lelap, ku edarkan pandangan sejauh mata memandang. Sangat hening, bahkan terlalu hening. Tiada hembus angin atau lolongan anjing, pun dengan pikiranku, sama senyapnya dengan keadaan saat ini. Tak mengherankan, seorang Guruku pernah berkata, lewat tengah malam adalah waktu dimana kesadaran, akal sehat, dan hati manusia berada di titik nol, wajar jika aku tak bisa merasakan apapun sekarang. Lama setelah kembali mengumpulkan nyawa, sepenuhnya aku membuka mata. Meski masih berbaring di peraduan dalam hangatnya balutan selimut, anganku segera berkelana kemana-mana. Bagai cat beragam warna yang kutumpahkan sekaligus, dan langit-langit kamar yang kutatap ini sebagai kanvasnya, aku mulai menciptakan sebuah lukisan abstrak bernama khayalan.
            Begitu banyak hal yang kupikirkan, berkecamuk sepenuhnya di kalbu, berdesakan masuk ke kepalaku, bingung memilih mana yang baiknya lebih dahulu kupikirkan. Tuhan, apa kau tak keberatan bila aku bercerita sampai matahari terbit nanti? Sebab hanya Engkaulah kuncianku saat ini. Hambamu yang hina dan penuh dosa ini sedang memerlukan seseorang untuk menjadi tempat mencurahkan isi hati. Kau tahu betapa menumpuknya emosi yang sedang kutanggung, bukan? Semua bercampur dan menjadi kelewat banyak untuk dihitung. Bahagia, sedih, kesal, dan bingung hanya beberapa diantaranya. Tak bisa kubedakan lagi mana yang patut disyukuri atau disesali.
            Cuma sekejap mata, Tuhan. Masa mudaku yang secantik musim semi seketika berubah menjadi lahan tandus tak berpenghuni. Topan itu ternyata cukup kuat untuk menerbangkan dan mengambil hal-hal yang berharga bagiku. Kini aku sudah sangat memahami arti dari memiliki dan kehilangan, telingaku ini sudah muak mendengar kata ‘hilang’, serta telah terbiasa dengannya, tapi tak pernah bisa menerimanya.
            Satupun dari kami tiada yang menghendaki terjadinya hal ini. Yang aku dan mereka tahu hanya kisah cinta juga persahabatan indah yang rasanya baru kemarin dialami. Namun apa yang terjadi sekarang? Semua hilang dan berubah menjadi debu yang butirannya pun tak bisa kulihat lagi. Tinggal aku yang tersisa disini, melanjutkan hidup, mencoba menerima takdir, dengan tetap menggenggam serpihan kenangan dari masa lalu. Jangan sebut itu hal bodoh, sebab kenangan tersebutlah yang akan selalu menjadi alasanku untuk berbahagia serta tetap bisa bertopang pada impianku.
            Dihantui rasa takut kehilangan ini begitu membunuhku. Bukan perkara mudah melepaskan orang yang pergi secara mendadak, tanpa alasan, dan juga tak mengucapkan selamat tinggal. Walau ku tahu dia juga bergetar di balik punggungnya, tapi bukan berarti yang dilakukannya ini tidak terasa sakit. Hatiku ini hanyalah sebuah bongkahan lunak dan tidak tercipta dari partikel keras serupa baja. Oh, lupakan! Anggap saja aku cuma berlagak lemah tadi, kalian tahu kan betapa kuatnya aku ini? Yang seperti itu takkan berpengaruh banyak buatku.
            Dibanding menghitung balasan yang bisa kuterima atau memikirkan kebahagiaan apa yang bisa kudapat, tanpa dendam sedikitpun, aku akan terus berada disampingnya tanpa terlihat. Mendoakannya adalah cara terbaik mencintainya untuk saat ini. Bukan hanya padanya Tuhan, tapi pada semua orang yang kucintai.
            Lelah? Tentu saja. Tapi dengan suatu alasan bernama cinta, aku akan selalu bisa bertahan…
           
           

Himawari no Uchinaru Koe . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates