Minggu, 03 Februari 2019


           
Ini adalah sepenggal kisah yang datang dari dalam sebuah kotak musik tua . Kotak musik yang telah begitu lama menghuni satu sudut rak di toko cenderamata . Tua, usang, dan terabaikan, itulah dirinya . Melihat barang-barang lain pergi bersama orang yang menginginkannya, terjual . Dalam hati dia bergumam ,
            “ Satu persatu temanku menghilang meninggalkanku . Tuan Teddy yang ramah dan hangat , Bellina si boneka cantik yang baik hati , bahkan Jack Dalam Kotak yang penuh kejutan dan selalu menghiburku dengan leluconnya . Tampaknya mereka akan menuju ke tempat yang lebih baik . Melihat dunia , bertemu orang-orang baru , dan mendapatkan banyak kasih sayang . Kapan ya aku bisa seperti mereka ? “ ratapnya sedih .
            Bukan tanpa alasan dia berpikir pesimis begitu . Sebenarnya , dia bukan benda yang buruk . Dia diciptakan dengan begitu indah oleh Sang Kakek pemilik toko cenderamata terdahulu , bak sebuah mahakarya . Ingat betul ia akan keadaannya saat itu .
            Kotak tempatnya tinggal terbuat dari kayu yang harum , dipahat dengan ukiran bergambar peri-peri kecil yang sedang bernyanyi . Mesinnya dikerjakan dengan amat teliti oleh si Kakek , agar bisa menghasilkan melodi yang merdu . Dan terakhir , sang Kakek menciptakan dirinya . Masih dari kayu , hanya saja kali ini membentuk tubuh seorang gadis yang mengenakan rok tutu , sedang melengkungkan sebelah kakinya , dan satunya lagi menjadi tumpuannya untuk berdiri , dia sedang menari balet . Sungguh pria tua itu bekerja keras untuk memulaskan cat pada seluruh tubuhnya , membuatnya terlihat semakin hidup . Kakek meletakkan dirinya dengan sangat hati-hati kedalam kotak musik , tepat di bagian tengahnya . Air muka sang Kakek berubah , hidungnya yang sedikit tertutup kumis berwarna putih itu tampak mengembang , bangga pada hasil karyanya sendiri .
            Sang Kakek berkata , ‘ Aku menciptakanmu dengan cinta . Maka kuharap , kelak kau pun bisa membuat semua orang merasakan cinta . Setiap ada seseorang yang memutar kunci ini , kotak akan terbuka , lalu kau akan muncul dan menari , walau hanya berputar-putar di lintasan yang sama , diiringi lantunan musik indah ini . Damaikanlah hati mereka semua , Marionette… ‘ begitu sang Kakek menamainya .
            Marionette yang tersadar dari lamunannya semakin bersedih , meratapi nasibnya yang terlampau pantas untuk dikasihani .
            “ Kakek , maaf aku belum bisa mewujudkan harapanmu itu sampai detik ini , bahkan setelah kau pergi meninggalkan dunia ini . Kau tahu Kakek ? Anak cucumu yang saat ini mengurus toko cenderamatamu tidak mengerjakannya sebaik dirimu . Mereka mengisi rak-rak ini dengan benda-benda mahal , namun mereka tidak memperdulikan benda usang sepertiku sampai aku berdebu begini . Hanya tinggal aku saja yang tersisa , Kek . Mereka semua sudah tidak ada ! Tidak ada yang mencintai dan menginginkanku disini . Ah, tapi apa harus aku menyalahkan mereka ? Mungkin saja ini memang sudah takdirku , diciptakan bukan untuk dicintai , melainkan untuk disisihkan dan dilupakan … “
            Dan ingin tahu bagian mana yang paling menyedihkan ? Saat ada seseorang yang menghampiri tempatku , dan menyentuhku . Kemudian mereka mulai memutar kunci lalu melihatku menari bersama musik itu . Setelahnya , kadang mereka tersenyum kecil , ada pula yang raut wajahnya tak bisa kubaca , bahkan beberapa dari mereka terlihat saling menepukkan kedua tangannya , menghilangkan debu setelah menyentuhku yang kotor ini . Ada pula anak-anak perempuan yang merengek pada Ibunya , memohon untuk membawaku pulang . Tapi si Ibu malah berkata , ‘ Taruh lagi benda jelek itu , Nak . Dia sudah tua dan kotor . Ibu tak mau membuang-buang uang hanya untuk benda semacam itu . Lebih baik kita mencari mainan lain saja… ‘ . Pada akhirnya , hal itulah yang membuatku tak kunjung keluar dari tempat ini . 
            Tuhan , aku memang tak hidup , tapi aku memiliki perasaan . Aku ingin menjadi milik seseorang dan dicintai . Siapapun tak masalah , seorang gadis kecil yang cengeng , nenek tua renta , pemabuk , atau gelandangan sekalipun . Itulah impianku selama ini , membuat mereka tersenyum tulus karena diriku , dengan segala hal yang kupunya . Apakah itu saja mustahil untukku ? Dengan keadaanku yang sekarang ini , tampaknya iya .
            Namun , aku tak mau mengibarkan ‘bendera putih’ begitu saja . Sampai seluruh tubuhku ini lapuk oleh jamur dan habis digerogoti rayap , aku takkan pernah berhenti untuk mencoba mengabulkan harapan Kakek ,yakni menebarkan cinta pada banyak orang .
            Aku tak perlu panggung dan lampu sorot , sebab aku telah mempunyai singgahsana sendiri untukku menari . Aku tak rakus diperhatikan banyak orang , karena aku sudah mempunyai banyak penonton disini , yang setia menyaksikan pertunjukanku setiap malamnya , para tikus , nyamuk , kunang-kunang , mereka teman yang baik . Dan aku tak butuh siapapun untuk memutar kunci kotak musikku ini , aku bisa melakukannya sendiri , dan takkan bergantung pada orang lain . Mereka cukup merasa terkejut saja saat aku akan bersinar nanti , mereka akan bertepuk tangan dengan rasa malu karena pernah mencampakkan dan menganggapku remeh .
            Aku bersyukur dengan apa yang kupunya saat ini , dan aku akan berjuang bersama mereka semua untuk menjadi lebih baik . Aku memang tidak cantik , tapi aku punya keyakinan pada diri sendiri lebih dari siapapun . Percaya pada impian dan harapan itu tidak pernah salah . Aku telah memilihnya , dan aku akan tetap berada disana . Berdiam diri , tidak bergerak kemanapun , namun mampu menarik tatapan semua orang kearahku , menari dengan mimpiku . ‘
            Inilah aku , si Marionette tua yang tidak mudah dihancurkan…

Himawari no Uchinaru Koe . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates